Warung Kopi Gedhek Legendaris Mbah Muk di Bence Kediri Tetap Eksis 50 Tahun, Kopi Lepek Rp 3 Ribu Jadi Magnet.

Baca ini juga

JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Di tengah menjamurnya kafe modern dan coffee shop kekinian yang menawarkan kopi sachet beraneka rasa di Kota Kediri, ada satu warung kopi kecil yang tetap eksis, sederhana, dan tak pernah sepi pengunjung. Dialah Warung Kopi Mbah Muk, atau akrab disapa Mbah Mukinah.

Warung yang berada di Lingkungan Bence, RT 31 RW 06, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini menjadi saksi denyut nadi warga kampung selama lebih dari lima dekade. Dari pagi hingga malam, bangku-bangku dingkliknya selalu terisi. Tak hanya warga Bence, pembeli dari Betet, Tegal Arum Ngronggo, Blabak, Singonegaran, Pesantren, bahkan dari dalam Kota Kediri sengaja datang hanya untuk menikmati seduhan kopinya.

Dilihat dari bangunannya, warung ini memang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Konstruksinya masih menggunakan bahan alami berupa bambu. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu atau dalam bahasa Jawa disebut gedhek. Atapnya dari genteng lawas dengan rangka kayu usuk yang sudah menghitam dimakan usia. Lantainya pun masih tanah yang ditata bata merah tanpa plester, dengan beberapa dingklik kayu pendek sebagai tempat duduk.

Justru kesederhanaan inilah yang menjadi magnet. Begitu masuk, kesan tempo dulu sangat terasa. Asap rokok kretek, aroma kopi tubruk yang mengepul, dan suara obrolan warga bercampur menjadi suasana yang membawa pengunjung bernostalgia ke masa kecil di kampung halaman.

Warung ini dibangun Mbah Mukinah sejak tahun 1970-an. Saat itu, Bence masih berupa area persawahan dan kebun. Berawal dari modal teko besar, beberapa cangkir seng, dan kopi bubuk eceran, kini warung tersebut menjadi ikon kuliner kampung yang legendaris.

Seperti biasa, si empunya warung, Mbah Mukinah, sudah tiada. Kini warung diteruskan oleh Mbak Sih. Buka lapak sejak Subuh hingga pukul 21.00 WIB. Rutinitas ini sudah dilakoni selama puluhan tahun tanpa mengenal libur, hujan ataupun panas.

Mayoritas pengunjungnya adalah kaum laki-laki. Mulai dari petani yang hendak berangkat ke sawah sambil menyeruput kopi pertama, tukang becak yang mangkal, karyawan Pabrik Gula Pesantren yang pulang shift, hingga para tetua kampung yang mengisi waktu pensiunnya dengan cangkrukan.

Warung ini bukan hanya tempat minum, tapi sudah menjadi balai warga informal. Informasi tentang kerja bakti, hajatan, hingga informasi dari Kelurahan seringkali tersebar pertama kali dari warung ini.

Yang membuat penikmat kopi betah adalah cita rasa kopi ala Mbah Muk yang berbeda dari kopi kafe. Kopi hitamnya diseduh dengan cara tradisional. Air mendidih langsung dituang ke dalam cangkir berisi bubuk kopi asli dan gula. Tanpa mesin, tanpa saringan.

Aromanya khas, kental, dan nendang. Ampasnya dibiarkan mengendap di dasar cangkir. Sekali seruput, rasa pahit manisnya langsung menyatu di lidah. Harganya pun masih sangat merakyat, hanya Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per cangkir.

Seperti yang disampaikan Basuki, Ketua RT 29 RW 05 Lingkungan Bence yang menjadi pelanggan setia.

“Saya ngopi di sini sudah lama sekali, sejak masih duduk di bangku STM hingga sekarang sudah punya cucu. Selain tempatnya enak untuk tongkrongan, bisa sambil merokok, juga bisa untuk ngobrol sama teman-teman lain. Kalau belum ngopi di tempat Mbah Muk, rasanya ada yang kurang,” ujar Basuki kepada Jendela Informasi.

Hal senada juga disampaikan Jumangin, warga asal Rejomulyo yang sejak tahun 1973 menetap menjadi warga Bence RT 30. Ia menyebut penikmat kopi seduhan ala Mbah Muk sudah dinikmati dari generasi ke generasi.

Namun yang paling legendaris dan menjadi ciri khas warung ini hingga tetap eksis tak lekang ditelan zaman adalah cara penyajiannya.

Hingga kini, Mbak Sih tetap setia menyajikan kopi menggunakan tatakan cangkir kecil atau dalam istilah lokal disebut lepek. Cara minumnya pun unik dan khas wong ndeso: kopi panas dituang sedikit demi sedikit dari cangkir ke lepek, kemudian diseruput dengan bunyi sruputan yang khas untuk mendinginkan.

Sensasi inilah yang tidak akan pernah didapatkan di kafe modern. Ritual minum kopi lepek ini bukan sekadar gaya, tapi warisan budaya minum kopi orang Jawa tempo dulu yang mengajarkan kesabaran dan kesederhanaan.

Sementara itu, Mbak Sih yang menggantikan si empunya warung menuturkan, warung ini sebenarnya sudah berdiri sebelum tahun 70-an.

“Mulanya berjualan di Pasar Lombok Bence yang melegenda, tepatnya sekarang berdiri Bangunan RW 05. Perjalanan waktu akhirnya menetap di sini,” tuturnya.

Selain kopi, warung ini juga menyediakan aneka jajanan pasar tradisional seperti gorengan tempe, tahu berontak, telo goreng, gedang goreng, kacang rebus, kerupuk upil, dan jajanan jadul lainnya yang ditata dalam toples-toples kaca jadul. Semuanya dijual dengan harga seribuan.

Dengan kesederhanaan dan keaslian inilah Warung Kopi Mbah Muk mampu bertahan. Ia bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang silaturahmi, tempat bertukar cerita, tempat merajut kebersamaan, dan penjaga tradisi warung kopi gedhek yang kini semakin langka di Kota Kediri.

Di saat banyak warung kopi tradisional tumbang karena kalah bersaing dengan franchise, Warung Mbah Muk justru membuktikan bahwa keaslian, keramahan pemilik, dan rasa yang konsisten adalah kunci untuk tetap eksis.

Warga berharap warung ini tetap dipertahankan apa adanya, jangan sampai direnovasi menjadi bangunan permanen modern yang justru akan menghilangkan ruh dan nilai historisnya.

Reporter: Kamid
Editor: Tim Jendela Informasi.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terkini

Fatayat NU Ranting Bence Menorehkan Prestasi, Sabet Juara Harapan 2 Gobak Sodor Sarungan Piala Walikota Kediri.

JENDELA INFORMASI, KEDIRI - Kegigihan dan kekompakan tim Fatayat NU Ranting Bence berbuah manis. Setelah berjibaku melewati 8 pertandingan...
- Advertisement -spot_img

Artikel Lainnya

- Advertisement -spot_img