Tradisi Bersih Desa Lingkungan Bence Diwarnai dengan Bedah Buku Asal Muasal Lingkungan

Baca ini juga

JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Ratusan warga Lingkungan Bence, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, menggelar tradisi Bersih Desa sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-186 Lingkungan Bence, Minggu (12/7/2026). Kegiatan dipusatkan di Titik Nol Bence, Gang I, yang diyakini sebagai awal mula berdirinya permukiman tersebut.

Tokoh masyarakat Bence, Kamid, menjelaskan pemilihan Titik Nol Bence sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Menurutnya, lokasi tersebut merupakan tempat pertama Ki Ageng Suronoyo bersama Mbah Irontiko membuka hutan atau babat alas yang kemudian berkembang menjadi Lingkungan Bence.

“Informasi ini saya himpun setelah menelusuri berbagai sumber, mulai dari para pelaku sejarah hingga ahli waris yang mengetahui asal-usul Bence,” ujarnya.

Kamid menuturkan, Ki Ageng Suronoyo merupakan tokoh yang dihormati masyarakat sebagai pendiri sekaligus sesepuh Lingkungan Bence. Gelar “Ki Ageng” diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam merintis peradaban di kawasan tersebut sekitar tahun 1825–1840 Masehi.

Prosesi Bersih Desa diikuti seluruh elemen masyarakat. Hadir pula Bhabinkamtibmas, Babinsa, ketua RT dan RW, Ketua LPMK, tokoh agama, tokoh masyarakat, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kelurahan Pakunden, serta mahasiswa KKN Kelompok 27 Universitas Syekh Wasil Kediri.

Mewakili unsur tiga pilar, Babinsa Kelurahan Pakunden Sertu Elva Ardianto menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga dalam menjaga tradisi.

“Selamat Hari Ulang Tahun ke-186 Lingkungan Bence. Semoga semakin maju, aman, sejahtera, tetap menjunjung tinggi semangat gotong royong, serta terus melestarikan budaya yang menjadi kebanggaan bersama,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat kebersamaan dalam membangun Kelurahan Pakunden demi generasi mendatang.

Sementara itu, Ketua RW 07 Perum PB, Sutaji, mengaku bangga dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia dipercaya panitia membacakan doa penutup menggunakan bahasa Jawa.

“Saya sangat senang karena tradisi dan doa menggunakan bahasa Jawa tetap dilestarikan dalam kegiatan Bersih Desa ini,” ungkapnya.

Selain prosesi adat, kegiatan juga diisi sarasehan yang mengupas sejarah babat alas Bence. Materi disampaikan oleh Kyai Imam Mochtar Ahmad yang sekaligus memimpin doa dan tahlil, dengan dipandu moderator Hj Khoirun Nisa.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terkini

Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjahit di Pasar Pahing Kediri Kebanjiran Order Seragam Sekolah

JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, puluhan penjahit di Pasar Pahing Kota Kediri menikmati lonjakan pesanan...
- Advertisement -spot_img

Artikel Lainnya

- Advertisement -spot_img