JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Musim kemarau yang membawa suhu udara lebih dingin justru menjadi pukulan bagi peternak ikan cupang di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Sedikitnya 10 ribu ekor ikan cupang mati dalam beberapa waktu terakhir, memicu kerugian yang ditaksir mencapai Rp50 juta akibat pertumbuhan ikan terganggu dan tingkat kematian meningkat.
Peternak ikan cupang asal Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Andriyansah, mengatakan kondisi saat ini berbeda dibandingkan musim hujan. Meski curah hujan lebih tinggi, suhu air kolam pada musim hujan justru cenderung lebih hangat sehingga mendukung pertumbuhan ikan.
“Kalau sekarang musim kemarau, suhu kolam lebih dingin. Pagi hari sekitar 21-22 derajat Celsius, sedangkan siang hari berkisar 27-30 derajat Celsius,” ujarnya.
Menurut Andriyansah, suhu air yang lebih rendah tidak memicu munculnya penyakit pada ikan, namun memengaruhi metabolisme. Akibatnya, ikan menjadi lebih lambat makan, proses pencernaan terganggu, dan pertumbuhannya tidak secepat saat suhu air hangat.

“Pengaruhnya ikan cenderung lambat pertumbuhannya, makannya juga berkurang. Pencernaannya ikut terganggu,” katanya.
Dampak kondisi tersebut semakin terasa dengan meningkatnya angka kematian ikan. Selama musim kemarau ini, sekitar 10 ribu ekor ikan cupang di lokasi budidayanya mati sehingga kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai Rp50 juta.
Untuk menekan kerugian yang lebih besar, Andriyansah mengaku mengurangi frekuensi produksi. Selain itu, ia melakukan penyesuaian pada kolam budidaya agar suhu air tetap lebih stabil sehingga dapat menekan risiko kematian ikan dan menjaga keberlangsungan usaha budidayanya.







