Panitia Gaungkan Spirit Muktamar NU yang Sejuk dan Bermartabat

Baca ini juga

JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 resmi ditutup pada Senin (23/6/2026) di Aula Induk Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri. Salah satu agenda krusial yang dipaparkan dalam konferensi pers penutupan adalah kesiapan menyambut Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026 mendatang.

Sekretaris Organizing Committee (OC) Munas-Konbes NU 2026, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA, yang didapuk sebagai juru bicara, menyampaikan bahwa lokasi definitif pelaksanaan Muktamar masih dalam tahap penggodokan. Sejumlah wilayah telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah, antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat.

Namun, di luar urusan teknis tempat, Prof. Nuh menekankan pesan substantif yang jauh lebih penting: Muktamar ke-35 NU harus menjadi momentum yang menyejukkan dan bermartabat.

Prof. Nuh menggarisbawahi bahwa forum tertinggi di NU tersebut tidak boleh terjebak dalam tensi politik yang memanas. Ia menganalogikan suasana panas dalam Muktamar dengan metafora fiqih yang sangat lekat dengan tradisi pesantren.

“Kita semua bersepakat, Muktamar akan datang itu gembira, senang. Tetapi tidak hanya gembira, sejuk. Tidak hanya sejuk, berkualitas. Tidak hanya berkualitas, bermartabat,” ujar Prof. Nuh di hadapan para awak media.

Ia memaparkan mengapa aspek “sejuk” menjadi kunci utama dalam pemilihan nakhoda baru PBNU kelak. Menurutnya, atmosfer yang panas hanya akan merugikan muruah organisasi.

“Kenapa sejuk itu menjadi penting? Karena kalau panas, tidak ada cara lain untuk mengurangi panas itu, kecuali buka baju. Kalau buka baju, akibatnya apa? Auratnya kelihatan. Kalau auratnya kelihatan, sholatnya tak sah,” jelasnya analogis.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengingatkan agar dinamika pemilihan kandidat tidak berujung pada aksi saling menjatuhkan atau membuka aib sesama kader.

“Jadi kalau suasana Muktamar itu panas, maka antar kandidat itu saling menjelekkan yang sering terjadi. Padahal jelek itu atau aib itu kan aurat. Yang harus ditutup, bukan untuk diobral,” sambungnya.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terkini

Koni Kota Kediri Ajukan Diri Menjadi Tuan Rumah Porprov Jatim XI 2029

JENDELA INFORMASI, KEDIRI - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri secara resmi mengajukan Kota Kediri sebagai calon tuan...
- Advertisement -spot_img

Artikel Lainnya

- Advertisement -spot_img