JENDELA INFORMASI, KEDIRI – Tradisi mudik Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Salah satu bagian tak terpisahkan dari tradisi ini adalah membawa oleh-oleh khas dari suatu daerah.
Salah satunya di Kota Kediri Jawa Timur. Di daerah ini tahu kuning menjadi perburuan bagi para pemudik sebelum kembali ke rumah tujuan. Hal ini disampaikan oleh Herman Budiono, pemilik gerai Tahu Takwa Bah Kacung, yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri.
Menurutnya memasuki momen lebaran seperti saat ini, tokonya selalu dipenuhi oleh pembeli dari berbagai daerah. Mulai dari lingkup Jawa Timur, Jakarta, Bandung hingga luar pulau seperti Kalimantan.
“Momen lebaran pembelian kian ramai. Kalau dihitung bisa mencapai 3 – 4 kali lipat di banding hari biasa,”kata Herman Budiono, saat ditemui di lokasi toko, Kamis (26/3/26).
Banyaknya pembeli di momen lebaran ini membuat rumah produksi Herman meningkat. Bila biasanya ia cukup menggunakan 1 kwintal kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tahu, namun di lebaran kali ini jumlah kedelai yang ia gunakan meningkat menjadi 3 sampai dengan 4 kwintal per hari.

“Dari 1 kwintal menjadi 4 kwintal kedelai yang digunakan. Untuk 1 kwintal kedelai biasanya dapat menjadi 2 ribu potong tahu,” ungkapnya.
Untuk harga tahu takwa milik Herman sendiri dijual dengan harga 5 ribu rupiah per potong tahu. Sedangkan untuk satu pack berisi 10 tahu dijual dengan harga 50 ribu rupiah.
Sementara itu, Ica salah satu pembeli asal Sidoarjo ini mengaku membeli tahu takwa sebagai oleh-oleh saat pulang, mengingat tahu adalah makanan khas asal Kediri.
“Karena tahu ini adalah makanan khas asal Kediri. Jadi menjadi oleh-oleh yang wajib untuk dibawa pulang dan di konsumsi di rumah,” ungkapnya. Seperti diketahui, tahu Takwa Bah Kacung merupakan salah satu pelopor penjualan tahu du Kediri.
Di mana usaha tahu Bah Kacung ini telah berdiri sejak tahun 1912 dan hingga kini masih aktif dikelola generasi ketiga.
Herman Budiono sendiri mulai meneruskan usaha keluarga tersebut sejak 2008, melanjutkan tongkat estafet dari ayahnya, Seger Budi Santoso sebagai generasi kedua di tahun 1966 -2008 tahun.





